Langsung ke konten utama

Pandemi Covid-19 Usai, Tren Bisnis Online Masih Tumbuh Subur



 Tren bisnis online di Soloraya diyakini tetap bergairah meski pandemi sudah mereda.

Pergeseran perilaku konsumen, menekan operational cost hingga agresif ekspansi memperluas pangsa pasar menjadi alasan utama bisnis online bakal tumbuh subur.

Selama pandemi lebih dari dua tahun, membuat banyak orang lebih nyaman belanja dari rumah.

Masyarakat tak perlu keluar rumah menuju toko untuk berbelanja. Mereka bisa memanfaatkan beragam macam platform digital yang menawarkan kemudahan transaksi.

Pada akhirnya, tren belanja online menjadi kebiasaan baru.
    
Pakar Pemasaran Digital UNS, Ahmad Ikhwan Setiawan mengatakan bisnis online tetap prospektif meski kebijakan pembatasan sosial tak lagi diterapkan pemerintah.

Banyak keuntungan dan manfaat bagi pelaku usaha yang menjalankan roda bisnis secara online.

“Mereka tak perlu membangun toko, tak perlu merekrut karyawan atau satpam. Operational cost bisa ditekan seminim mungkin. Justru, pelaku bisnis yang sudah merintis berjualan secara online berpotensi memperluas pasar baru di tahun ini,” kata dia,

Biasanya, pebisnis online pemula bakal menawarkan beragam produk melalui media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, Instagram hingga Tiktok.

Mereka ingin mengenalkan produk sekaligus membuka jaringan pelanggan. Kemudian, web bisnis yang melengkapi strategi promosi di medsos.

Bila telah memiliki pelanggan, mereka bakal bergabung dengan marketplace untuk mendongkrak omzet penjualan.

“Tantangan bagi pebisnis online adalah harga yang kompetitif. Jika ada toko lain yang menawarkan harga lebih murah maka konsumen bakal tertarik dan berpindah toko. Jadi kuncinya harga produk harus kompetitif agar bisa survive,” ujar dia.

Ikhwan, sapaan akrabnya, menyampaikan perkembangan bisnis online di Soloraya juga diperkirakan semakin moncer.

Banyak bermunculan pebisnis online pemula saat pandemi hingga sekarang. Sebagian pelaku usaha juga mengombinasikan bisnis online dan offline guna memperluas pangsa pasar sekaligus mendongkrak penjualan.

Sementara itu, fenomena kalangan muda, terutama kalangan milenial terjerat utang saat menggunakan fitur Paylater, yakni beli sekarang bayar belakangan.

Mereka tergiur fitur Paylater e-commerce yang menawarkan beragam kemudahan dan kepraktisan saat berbelanja secara online.

Umumnya, pembayaran Paylater, yakni 30 hari dengan sistem pembayaran sekali, tiga kali, enam kali hingga 12 kali.

Nasabah bisa melakukan transaksi di awal dengan sistem bayar nanti tanpa menggunakan kartu kredit.

“Fitur Paylater merupakan kerjasama marketplace atau e-commerce dengan lembaga jasa keuangan (LJK). Model bisnisnya pun berbeda-beda tergantung mitra LJK,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Eko Yunianto.

Eko menyampaikan bisa jadi banyaknya kalangan muda yang terjerat utang hingga gagal bayar saat menggunakan Paylater lantaran rendahnya literasi jasa keuangan, utamanya risiko-risikonya.

Masyarakat semestinya menggali informasi sedalam mungkin setiap produk keuangan yang ditawarkan e-commerce.

Selain itu, masyarakat harus benar-benar memahami kondisi keuangan dan produk yang ditawarkan.

“Jangan lupa pastikan legal dan logis atau 2L. Produk keuangan itu seperti apa, bermanfaat tidak bagi nasabah dan sesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga,” kata dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia businesses turn to digital transformation

With a fast-growing digital economy that is predicted to eventually  dominate  the Southeast Asia region, Indonesia’s digital economy is set to contribute significantly to the nation’s economic growth. Global cloud giants such as AWS and Google Cloud know this, and have announced plans to  deploy cloud regions in Indonesia . But as Indonesia businesses adopt digital technologies, are they looking to the cloud or relying on colocation facilities for their digital infrastructure? State of digital – Wikimedia Commons While there is a tendency for startups to establish their IT systems solely on the cloud due to its low entry cost and scalability, large organizations are likely to continue building data centers because it makes the most economic sense for them, notes Sutedjo Tjahjadi, the managing director of PT Datacomm Diangraha’s cloud business. “[Startups] can use various cloud systems to prototype and quickly get started,” he explained. “Organizations ...

Mengubah blog menjadi mesin uang

You probably know that while visits are nice, leads, well, are so much nicer. Simply put, blogging for the sake of driving more traffic to your website doesn’t cut it any more. You need to find a way to monetize your content. The real value lies in the ability to take this traffic and convert it into real leads, and eventually revenue, for your company. >  Learn how to monetize your content with Roojoom Back in 2014, HubSpot’s research found that marketers who prioritize blogging are  13 x more likely  to enjoy positive ROI. Not surprisingly, the same report found that marketers’ top two business concerns are increasing the number of leads generated, and turning those leads into customers. Once you’ve set your priorities straight, and start blogging at least once a week – if not twice or three times, it’s time to create a clear conversion path from your blog. This will help ensure that any top-of-the-funnel visitors can easily see what the next step is for th...

Antisipasi Risiko Keamanan OT, Schneider Electric Berbagi 4 Prinsip Dasar Cybersecurity

Jakarta, 02 April 2020 – Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengungkapkan pentingnya memahami risiko keamanan teknologi operasional (Operational Technology / OT) dan prinsip dasar dalam memperkuat ekosistem digital agar lebih aman, lebih produktif dan lebih efisien untuk mengantisipasi risiko serangan siber (cybercrime) yang semakin tinggi di era revolusi industri 4.0. Tidak hanya itu, Schneider Electric juga menekankan perlunya membangun kerjasama strategis antara pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, pengamat dan akademisi untuk bersama-sama berkolaborasi memerangi serangan siber. Sekitar 20 miliar objek terhubung ke internet saat ini, dimana objek dan mesin menjadi semakin saling terhubung satu sama lain. Ketika industri global mengintegrasikan teknologi di pusat fasilitas dan operasionalnya, pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiran setiap orang adalah: bagaimana mengamankan lanskap digital yang be...