Langsung ke konten utama

Platform Digital Sumber Pasar Terbesar Azana Grup Selama 2022



Merambah pasar digital menjadi langkah penting dalam perjalanan berdirinya Azana Grup, perusahaan manajemen hotel yang sudah berdiri sejak 2007.

Pada 2022, berkat merambah pasar digital, sebagian besar target pasar Azana Grup secara keseluruhan berasal dari agen travel online /virtual, antara lain Azanahotel.id, Traveloka, Agoda, Tiket.com, Booking.com, Expedia, Pegipegi, Mister Aladin, dan GTA.

Sementara itu, pemasaran lewat agen travel luring hanya sebesar 15% antara lain MG Holiday, Kliknbook, Bayu Buana, dan Kaha Tours & Travel.

Mengutip Azana Company Profile yang diterima Solopos.com, Kamis (2/2/2023), tahapan organisasi perusahaan ini mulai dari ekspansi digital dengan membuka platform digital untuk menangani proses bisnis mereka.

Pascamembuka platform digital Azana Grup berhasil memberikan kepuasan yang terbaik untuk pelanggan, pegawai, dan mitra mereka.

Beberapa strategi pasar digital mereka antara lain branding lewat google dan media sosial, membangun aktivitas SEO (search engine optimization) atau mengoptimalkan posisi di mesin pencari internet, optimalisasi promosi lewat influencer, mengembangkan konten ramah pengguna internet, serta kolaborasi-kolaborasi lainnya.

Usaha sektor hospitality tidak bisa lepas dari kata kreatif, dan hal tersebut diterapkan Azana Grup dengan membuat layanan dan desain kreatif tentunya original.

Profesional juga sudah menjadi moto mereka sehari-hari, agar bisa bersinergi dengan tim internal dan membangun relasi yang baik dengan semua mitra eksternal Azana Grup.

Semangat kewirausahaan juga ditumbuhkan untuk menciptakan budaya mandiri dan pengembangan pola kreatif antar karyawan.

Hal tersebut dibangun Azana Grup untuk menciptakan layanan hospitality yang baik, dan tampaknya langkah-langkah tersebut sudah membuahkan hasil.

Pemilik sekaligus pendiri Azana Grup, Dicky Sumarsono, pada Kamis (2/2/2023) lalu mengatakan bulan Desember 2022 okupansi Azana Hotels di Solo mencapai 77-82%, sementara rata-rata okupansi Azana Hotels di Indonesia mencapai 85-95%.

Berdiri sejak tahun 2007, Azana Grup memiliki beberapa target untuk tahun 2023 dan 2024.

Target untuk tahun 2023 antara lain menambah jumlah unit hotel menjadi 120 hotel, mendirikan Azana tower & offices, ekspansi ke luar negeri yaitu Malaysia, Filipina, dan Timor Leste, meraih posisi 5 besar operator hotel lokal terbaik di Indonesia, meluncurkan bisnis F&B (food and beverage), mengoptimalkan pemesanan secara daring mencapai 40% lewat aplikasi, pemesanan via telepon, dan juga lewat situs AzanaHoteLid.

Program-program yang dikembangkan untuk mengejar target di tahun 2023 ini sebagian besar disebut Dicky antara lain secara sistem dengan monitoring KPI (key performance indicator) atau indikator performa utama, mengulas manajemen mereka, mengulas tujuan kinerja Azana Grup, program loyalty, dan pengembangan karir.

Sementara itu pada 2024 target yang ingin dicapai adalah menambah jumlah hotel yang dikelola sampai 140 hotel, kemudian beroperasi di 3 negara dan 100 kota di seluruh dunia, mengembangkan super app, mengelola lebih dari 60.000 kamar secara global, dan membuka kantor baru di Jakarta, Bali, Semarang, Jayapura, dan Surabaya.

Mereka juga menarget payment gateway milik mereka sendiri, dan mulai IPO (initial public offering) atau penawaran umum perdana yang artinya menjual sebagian saham mereka ke masyarakat.

Secara umum, Azana Grup menyasar hampir semua lapisan target pasar. Pasar kelas atas berhasil dikuasai oleh Azana Grup sebesar 4% dengan Azana Resort dan Front One Premier, kemudian 7% untuk kelas menengah ke atas yaitu lewat The Azana Hotel, Azana Style Hotel, dan Front One Resort, kelas budget atau ekonomis sebesar 31% lewat Front One Hotel dan Front One Boutique.

Sisanya adalah kelas smart atau target pasar melek teknologi yang mencari manajemen hotel efisien dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) sebesar 42% yaitu lewat Votel Hotel, Front One Inn, Front One Budget, dan Front One Cabin Hotel.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia businesses turn to digital transformation

With a fast-growing digital economy that is predicted to eventually  dominate  the Southeast Asia region, Indonesia’s digital economy is set to contribute significantly to the nation’s economic growth. Global cloud giants such as AWS and Google Cloud know this, and have announced plans to  deploy cloud regions in Indonesia . But as Indonesia businesses adopt digital technologies, are they looking to the cloud or relying on colocation facilities for their digital infrastructure? State of digital – Wikimedia Commons While there is a tendency for startups to establish their IT systems solely on the cloud due to its low entry cost and scalability, large organizations are likely to continue building data centers because it makes the most economic sense for them, notes Sutedjo Tjahjadi, the managing director of PT Datacomm Diangraha’s cloud business. “[Startups] can use various cloud systems to prototype and quickly get started,” he explained. “Organizations ...

Mengubah blog menjadi mesin uang

You probably know that while visits are nice, leads, well, are so much nicer. Simply put, blogging for the sake of driving more traffic to your website doesn’t cut it any more. You need to find a way to monetize your content. The real value lies in the ability to take this traffic and convert it into real leads, and eventually revenue, for your company. >  Learn how to monetize your content with Roojoom Back in 2014, HubSpot’s research found that marketers who prioritize blogging are  13 x more likely  to enjoy positive ROI. Not surprisingly, the same report found that marketers’ top two business concerns are increasing the number of leads generated, and turning those leads into customers. Once you’ve set your priorities straight, and start blogging at least once a week – if not twice or three times, it’s time to create a clear conversion path from your blog. This will help ensure that any top-of-the-funnel visitors can easily see what the next step is for th...

Antisipasi Risiko Keamanan OT, Schneider Electric Berbagi 4 Prinsip Dasar Cybersecurity

Jakarta, 02 April 2020 – Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengungkapkan pentingnya memahami risiko keamanan teknologi operasional (Operational Technology / OT) dan prinsip dasar dalam memperkuat ekosistem digital agar lebih aman, lebih produktif dan lebih efisien untuk mengantisipasi risiko serangan siber (cybercrime) yang semakin tinggi di era revolusi industri 4.0. Tidak hanya itu, Schneider Electric juga menekankan perlunya membangun kerjasama strategis antara pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, pengamat dan akademisi untuk bersama-sama berkolaborasi memerangi serangan siber. Sekitar 20 miliar objek terhubung ke internet saat ini, dimana objek dan mesin menjadi semakin saling terhubung satu sama lain. Ketika industri global mengintegrasikan teknologi di pusat fasilitas dan operasionalnya, pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiran setiap orang adalah: bagaimana mengamankan lanskap digital yang be...