Langsung ke konten utama

Bisnis Kemasan Diproyeksikan Cerah, Flexypack Jajal IPO



 Perusahaan di bidang industri percetakan digital untuk kemasan fleksibel, PT Solusi Kemasan Digital atau yang dikenal dengan FlexyPack berencana melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Aksi ini didasari semakin terbukanya potensi pasar di industri kemasan bagi UMKM.

Menurut Direktur Utama FlexyPack Denny Winoto mengatakan, prospek bisnis di industri kemasan fleksibel digital tercatat terus mengalami pertumbuhan, sehingga peluang pasar di industri ini pun semakin terbuka lebar. "Prospek usaha kemasan fleksibel digital bagi UMKM sangat diminati, karena pasarnya besar dan masih tahap awal,” jelasnya kepada Investor Daily, 

Terlebih lagi, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 diproyeksikan tetap positif, seiring dengan tren pemulihan pasca pandemi. Seperti diketahui, pemerintah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di 2022 akan sebesar 5,2% pada tahun ini, utamanya akan ditopang oleh komponen konsumsi rumah tangga.

"Seperti yang sudah dibuktikan, pada saat kesulitan akibat kondisi pandemi Covid-19, industri kemasan tetap berjalan dan malah semakin banyak yang memerlukan kemasan pada saat pandemi," ujar Denny.

Berdasarkan data Indonesian Packaging Federation (IPF), nilai ekonomi di industri kemasan nasional pada 2021 mencapai USD7,2 miliar dan nilainya diproyeksikan akan terus meningkatkan seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

Guna dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan industri kemasan tersebut, FlexyPack memutuskan untuk melakukan IPO pada tahun ini. Calon emiten yang sudah mendapatkan ticker PACK ini diketahui memiliki keunggulan dalam melayani pencetakan kemasan bagi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Maka dari itu perseroan berencana melepas saham ke publik sebanyak 308 juta lembar bernilai nominal Rp 10 atau setara dengan 20,03% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO. Dalam aksi ini, harga saham PACK dibanderol Rp 162 per lembar yang akan ditawarkan pada periode 2-6 Februari 2023. Perlu diketahui, harga IPO ini berada di batas atas harga Penawaran Awal (book building) yang sekitar Rp 110-Rp162 per saham.

Dengan demikian, melalui aksi korporasi yang telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 31 Januari 2023 tersebut, PACK bisa menggalang dana segar melalui pasar modal hingga mencapai Rp 49,9 miliar.

Untuk memuluskan aksi tersebut, manajemen PACK menunjuk PT NH Korindo Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi Efek.

PACK juga menerbitkan sebanyak 61,6 juta Waran Seri I yang menyertai saham baru atau sebesar 5,01 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh saat pernyataan pendaftaran IPO.

Setiap pemegang lima saham baru PACK berhak memperoleh satu waran, sedangkan setiap satu waran memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru perseroan.

Tanggal penjatahan ditetapkan pada 6 Februari 2023, pendistribusian saham dan waran secara elektronik (Tanggal Emisi) pada 7 Februari 2023. Sehingga, pencatatan saham maupun Waran Seri I di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilaksanakan pada 8 Februari 2023.

Denny optimis, para investor akan berminat untuk mengoleksi saham PACK yang kinerjanya diperkirakan bakal sejalan dengan tren pertumbuhan industri kemasan nasional. "Perseroan memiliki keunikan, yaitu dapat melayani UMKM yang memesan kemasan dalam jumlah rendah sampai 100 lembar per pesanan," ujarnya.

Di sisi lain, FlexyPack sudah melayani hampir 4.000 pelanggan, namun prospek bisnis di industri ini akan terus bertumbuh.

Untuk diketahui, FlexyPack menawarkan pencetakan kemasan full printing digital berbentuk sachet, standing pouch, atau roll stock yang bisa ditambahkan dengan aksesoris berupa klip zipper, finishing glossy, doff, hingga see through window


Sumber: https://www.beritasatu.com/ekonomi/1024095/bisnis-kemasan-diproyeksikan-cerah-flexypack-jajal-ipo/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia businesses turn to digital transformation

With a fast-growing digital economy that is predicted to eventually  dominate  the Southeast Asia region, Indonesia’s digital economy is set to contribute significantly to the nation’s economic growth. Global cloud giants such as AWS and Google Cloud know this, and have announced plans to  deploy cloud regions in Indonesia . But as Indonesia businesses adopt digital technologies, are they looking to the cloud or relying on colocation facilities for their digital infrastructure? State of digital – Wikimedia Commons While there is a tendency for startups to establish their IT systems solely on the cloud due to its low entry cost and scalability, large organizations are likely to continue building data centers because it makes the most economic sense for them, notes Sutedjo Tjahjadi, the managing director of PT Datacomm Diangraha’s cloud business. “[Startups] can use various cloud systems to prototype and quickly get started,” he explained. “Organizations ...

Mengubah blog menjadi mesin uang

You probably know that while visits are nice, leads, well, are so much nicer. Simply put, blogging for the sake of driving more traffic to your website doesn’t cut it any more. You need to find a way to monetize your content. The real value lies in the ability to take this traffic and convert it into real leads, and eventually revenue, for your company. >  Learn how to monetize your content with Roojoom Back in 2014, HubSpot’s research found that marketers who prioritize blogging are  13 x more likely  to enjoy positive ROI. Not surprisingly, the same report found that marketers’ top two business concerns are increasing the number of leads generated, and turning those leads into customers. Once you’ve set your priorities straight, and start blogging at least once a week – if not twice or three times, it’s time to create a clear conversion path from your blog. This will help ensure that any top-of-the-funnel visitors can easily see what the next step is for th...

Antisipasi Risiko Keamanan OT, Schneider Electric Berbagi 4 Prinsip Dasar Cybersecurity

Jakarta, 02 April 2020 – Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengungkapkan pentingnya memahami risiko keamanan teknologi operasional (Operational Technology / OT) dan prinsip dasar dalam memperkuat ekosistem digital agar lebih aman, lebih produktif dan lebih efisien untuk mengantisipasi risiko serangan siber (cybercrime) yang semakin tinggi di era revolusi industri 4.0. Tidak hanya itu, Schneider Electric juga menekankan perlunya membangun kerjasama strategis antara pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, pengamat dan akademisi untuk bersama-sama berkolaborasi memerangi serangan siber. Sekitar 20 miliar objek terhubung ke internet saat ini, dimana objek dan mesin menjadi semakin saling terhubung satu sama lain. Ketika industri global mengintegrasikan teknologi di pusat fasilitas dan operasionalnya, pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiran setiap orang adalah: bagaimana mengamankan lanskap digital yang be...