Langsung ke konten utama

Cloudera Meraih Posisi Leader di Gartner® Magic Quadrant™ 2022 untuk Cloud Database Management Systems



 Cloudera, perusahaan data hybrid, hari ini mengumumkan pencapaiannya dengan meraih predikat Leader Quadrant dari Gartner dalam Magic Quadrant for Cloud Database Management Systems (DBMS) 20221 untuk Cloudera Data Platform (CDP). Penilaian didasarkan pada kriteria khusus yang menganalisis kelengkapan visi dan kemampuan eksekusi perusahaan secara keseluruhan.

Menurut Gartner, “Perusahaan yang mengadopsi analisis metadata secara agresif di seluruh lingkungan manajemen data yang lengkap akan mengurangi time to delivery aset data baru ke pengguna sebesar 70%.” Perusahaan analis ini juga memperkirakan, “Pada tahun 2025, 90% penyebaran data dan analitik baru akan melalui ekosistem data yang mapan, sehingga mendorong konsolidasi di seluruh pasar data dan analitik.”

“Kami telah mendengar dengan jelas dari customer kami dan industri bahwa tool dan platform manajemen data yang tidak bisa mendukung kemampuan hybrid dan multi-cloud akan dinonaktifkan,” kata Sudhir Menon, Chief Product Officer Cloudera. “Kami percaya bahwa penempatan kami di Leaders Quadrant pada Gartner Magic Quadrant untuk Cloud DBMS tahun ini menunjukkan bahwa strategi hybrid dan multi-cloud Cloudera adalah strategi yang tepat. Dengan open data lakehouse dan unified data fabric kami, Cloudera masih menjadi satu-satunya platform data yang mendukung hybrid dan multi-cloud untuk semua data di mana pun – semua divisi, semua geografi, semua dataset.

 Cloudera juga menyertakan security dan tool yang dibutuhkan perusahaan yang terdistribusi secara geografis untuk memajukan bisnis mereka dengan penuh percaya diri.”

Laporan Magic Quadrant adalah puncak dari penelitian berbasis fakta yang kuat di pasar tertentu, sehingga memberikan sudut pandang luas tentang posisi relatif satu provider di pasar yang pertumbuhannya tinggi dan diferensiasi provider tersebut terlihat jelas. Provider diposisikan ke dalam empat kuadran: Leaders, Challengers, Visionaries, dan Niche Players. Riset ini memungkinkan Anda mendapatkan hasil maksimal dari analisis pasar yang selaras dengan kebutuhan bisnis dan teknologi Anda yang unik.

Disclaimer Gartner:
Gartner tidak meng-endorse vendor, produk, atau layanan apa pun yang digambarkan dalam publikasi penelitian kami, dan tidak menyarankan pengguna teknologi untuk memilih hanya vendor dengan peringkat tertinggi atau penunjukan lainnya. Publikasi penelitian Gartner meliputi pendapat organisasi penelitian Gartner dan tidak boleh dianggap sebagai pernyataan fakta. Gartner menafikan semua jaminan, tersurat maupun tersirat, sehubungan dengan penelitian ini, termasuk jaminan kelayakan jual atau kesesuaian untuk tujuan tertentu.

1 Gartner, “Magic Quadrant for Cloud Database Management Systems,” Henry Cook, Merv Adrian, Rick Greenwald, Xingyu Gu, 13 Desember 2022.

GARTNER adalah merek dagang terdaftar dan merek layanan dari Gartner, Inc. dan/atau afiliasinya di AS dan internasional, dan MAGIC QUADRANT adalah merek dagang terdaftar dari Gartner, Inc. dan/atau afiliasinya dan digunakan di sini dengan izin. Seluruh hak cipta dilindungi.

Tentang Cloudera
Di Cloudera kami percaya bahwa data bisa menjadikan hal yang tidak mungkin hari ini menjadi mungkin di hari esok. Cloudera mengajarkan kepada dunia tentang value dari big data, menciptakan suatu industri dan ekosistem, yang ditenagai oleh inovasi tanpa henti dari komunitas open-source. Kami memberdayakan customer kami, para pemimpin di industri mereka, untuk mentransformasi data yang rumit menjadi informasi yang jelas dan bisa ditindaklanjuti. Melalui platform hybrid data kami, organisasi dapat membangun masa depan yang didorong oleh data dengan mendapatkan data – di mana pun data itu berada – dan memberikannya kepada yang membutuhkannya. 

Sumber: https://waspada.id/ekonomi/cloudera-meraih-posisi-leader-di-gartner-magic-quadrant-2022-untuk-cloud-database-management-systems/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia businesses turn to digital transformation

With a fast-growing digital economy that is predicted to eventually  dominate  the Southeast Asia region, Indonesia’s digital economy is set to contribute significantly to the nation’s economic growth. Global cloud giants such as AWS and Google Cloud know this, and have announced plans to  deploy cloud regions in Indonesia . But as Indonesia businesses adopt digital technologies, are they looking to the cloud or relying on colocation facilities for their digital infrastructure? State of digital – Wikimedia Commons While there is a tendency for startups to establish their IT systems solely on the cloud due to its low entry cost and scalability, large organizations are likely to continue building data centers because it makes the most economic sense for them, notes Sutedjo Tjahjadi, the managing director of PT Datacomm Diangraha’s cloud business. “[Startups] can use various cloud systems to prototype and quickly get started,” he explained. “Organizations ...

Mengubah blog menjadi mesin uang

You probably know that while visits are nice, leads, well, are so much nicer. Simply put, blogging for the sake of driving more traffic to your website doesn’t cut it any more. You need to find a way to monetize your content. The real value lies in the ability to take this traffic and convert it into real leads, and eventually revenue, for your company. >  Learn how to monetize your content with Roojoom Back in 2014, HubSpot’s research found that marketers who prioritize blogging are  13 x more likely  to enjoy positive ROI. Not surprisingly, the same report found that marketers’ top two business concerns are increasing the number of leads generated, and turning those leads into customers. Once you’ve set your priorities straight, and start blogging at least once a week – if not twice or three times, it’s time to create a clear conversion path from your blog. This will help ensure that any top-of-the-funnel visitors can easily see what the next step is for th...

Antisipasi Risiko Keamanan OT, Schneider Electric Berbagi 4 Prinsip Dasar Cybersecurity

Jakarta, 02 April 2020 – Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengungkapkan pentingnya memahami risiko keamanan teknologi operasional (Operational Technology / OT) dan prinsip dasar dalam memperkuat ekosistem digital agar lebih aman, lebih produktif dan lebih efisien untuk mengantisipasi risiko serangan siber (cybercrime) yang semakin tinggi di era revolusi industri 4.0. Tidak hanya itu, Schneider Electric juga menekankan perlunya membangun kerjasama strategis antara pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, pengamat dan akademisi untuk bersama-sama berkolaborasi memerangi serangan siber. Sekitar 20 miliar objek terhubung ke internet saat ini, dimana objek dan mesin menjadi semakin saling terhubung satu sama lain. Ketika industri global mengintegrasikan teknologi di pusat fasilitas dan operasionalnya, pertanyaan yang kemudian muncul dalam pikiran setiap orang adalah: bagaimana mengamankan lanskap digital yang be...