Langsung ke konten utama

REMUNERASI

REMUNERASI

Opini saya yang dimuat pada Majalah SWA sebagai hasil wawancara tentang sistem remunerasi. Judul lengkap artikelnya adalah “Mencari Sistem Remunerasi Ideal”, dimuat pada Majalah SWA 16/XXVII/28 Juli – 10 Agustus 2011, halaman 72 – 73. Terima kasih untuk Mbak Herning Banirestu dari Majalah SWA.
Dewasa ini mengelola sistem remunerasi dengan baik sudah menjadi tuntutan mutlak. Maklum, hal ini terkait dengan kemampuan perusahaan memperoleh SDM terbaik yang notabene merupakan jantung maju-mundurnya bisnis. Masing-masing perusahaan kini mesti jeli dalam mengambil dan menerapkan sistem remunerasi yang paling tepat, disesuaikan dengan konteks industrinya.
Riri Satria, Direktur Consulting People Performance Consulting, memberikan ringkasan, selama ini ada tiga konsep yang terkenal dalam sistem remunerasi, yakni 3P : pay for positionpay for people, danpay for performancePay for position artinya membayar seseorang sesuai posisi dan jabatannya. Biasanya dihitung dengan rumus tertentu, berupa gaji pokok dan tunjangan tertentu untuk posisi dan jabatannya. Lalu pay for people, membayar sesuai dengan keunggulan yang dimiliki oleh karyawan. Karyawan dengan keahlian khusus mendapatkan tunjangan khusus. Dan pay for performance, membayar sesuai dengan prestasi atau kinerja karyawan, biasanya berbentuk bonus prestasi.
“Sebenarnya banyak perusahaan di Indonesia yang menerapkan tiga metode itu, sayangnya perhitungan masing-masing metode banyak yang belum jelas,” Riri mengamati. Dia mencontohkan, dalam menentukan standar penggajian untuk setiap posisi atau jabatan, sering kali tidak mempergunakan indikator spesifik, misalnya job grading atau job value seperti kompetensi yang dipersyaratkan, tingkat risiko kerja, besarnya tanggung jawab. “Kebanyakan masih menggunakan metode perkiraan, padahal bisa dihitung dengan cermat dengan menggunakan beberapa indikator,” Riri menunjuk.
Contoh lain, pada bonus untuk pay for performance, seringkali indikator kinerja tidak jelas atau masih bersifat normatif sehingga sulit diukur. “Ini menyebabkan bonus yang dibagikan pun sering dianggap tidak adil oleh karyawan karena tidak menggunakan indikator kinerja yang terukur. Padahal sudah ada metode untuk menyusun ini, dan yang paling umum adalah balanced scorecard,” Riri menerangkan kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia businesses turn to digital transformation

With a fast-growing digital economy that is predicted to eventually  dominate  the Southeast Asia region, Indonesia’s digital economy is set to contribute significantly to the nation’s economic growth. Global cloud giants such as AWS and Google Cloud know this, and have announced plans to  deploy cloud regions in Indonesia . But as Indonesia businesses adopt digital technologies, are they looking to the cloud or relying on colocation facilities for their digital infrastructure? State of digital – Wikimedia Commons While there is a tendency for startups to establish their IT systems solely on the cloud due to its low entry cost and scalability, large organizations are likely to continue building data centers because it makes the most economic sense for them, notes Sutedjo Tjahjadi, the managing director of PT Datacomm Diangraha’s cloud business. “[Startups] can use various cloud systems to prototype and quickly get started,” he explained. “Organizations ...

Mengubah blog menjadi mesin uang

You probably know that while visits are nice, leads, well, are so much nicer. Simply put, blogging for the sake of driving more traffic to your website doesn’t cut it any more. You need to find a way to monetize your content. The real value lies in the ability to take this traffic and convert it into real leads, and eventually revenue, for your company. >  Learn how to monetize your content with Roojoom Back in 2014, HubSpot’s research found that marketers who prioritize blogging are  13 x more likely  to enjoy positive ROI. Not surprisingly, the same report found that marketers’ top two business concerns are increasing the number of leads generated, and turning those leads into customers. Once you’ve set your priorities straight, and start blogging at least once a week – if not twice or three times, it’s time to create a clear conversion path from your blog. This will help ensure that any top-of-the-funnel visitors can easily see what the next step is for th...

Bantu Mudahkan 'Jalan' UMKM, CEO Toko Online Ini Masuk Forbes 30 Under 30

Liputan6.com, Jakarta  Hidup itu adalah pilihan. Dalam pekerjaan atau menjalankan usaha misalnya. Anda bebas memilih, mau bekerja diposisi apa, berbisnis apa, dan bagimana cara menjalankan usaha tersebut. Hal itulah yang setidaknya dilakukan oleh pengusaha muda asal Jakarta, William Sunito. Dia adalah Founder & Chief Executive Officer (CEO) TokoWahab.com Di usia mudanya, bungsu dari tiga bersaudara ini memimpin sekaligus mengelola perusahaan keluarga yang berdiri pada 1957. "Pada akhir 2015 saya kembali dari Amerika ke Indonesia dan memutuskan untuk terjun langsung mengurus perusahaan keluarga saya. Ini memang kemauan saya (untuk mengelola perusahaan) karena saya melihat ada potensi yang besar," jelas William saat berbincang dengan  Tim Liputan6.com  di kantornya di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Rabu (12/2). Ya, berbekal passion dalam dunia bisnis ditambah pengetahuan yang didapat selama kuliah di University of Washington, Amerika Serikat, William mulai men...